Pengertian Mencar Ilmu Aturan Syar’I (Syari'ah), Macam-Macam Mencar Ilmu Aturan Syar’I Dan Contohnya

A. Pengertian Hukum Syar’i.
Menurut secara umum dikuasai ulama hukum syar’i adalah

“Firman (kalam) Allah yang berkaitan dengan semua perbuatan mukallaf, yang mengandung tuntutan, pilihan atau ketetapan.”

Penjelasan definisi :
Maksud dari “Khiṭab atau firman Allahadalah Firman Allah Swt secara pribadi yaitu Al-Qur’an atau Firman-Nya tetapi melalui mediator yaitu sunnah, ijma’, dan semua dalil syar’i. Yang di maksud “iqtiḍa’”adalah tuntutan, baik tuntutan untuk melaksanakan atau meninggalkan, atau tuntutan secara niscaya maupun tidak pasti.

Sedangkan “takhyir” yaitu menentukan antara melaksanakan sesuatu atau meninggalkanya tanpa menguatkan salah satunya atau membolehkan mukallaf untuk melaksanakan dan meninggalkan. Dan di maksud “Waḍ’i” ialah firman Allah Swt yang menjadikan sesuatu sebagai lantaran adanya yang lain atau sebagai syarat adanya yang lain atau sebagai penghalang adanya yang lain.

Sebagai Contoh firman Allah Swt surat Al-Maidah : 38

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

"Laki-laki yang mencuri dan wanita yang mencuri potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan dari apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Maidah:38)

Ayat di atas ialah termasuk hukum syar’i lantaran berupa firman Allah Swt yang menjadikan pencurian sebagai lantaran adanya hukum yaitu potong tangan.

Hadits Rasululah Saw

Dari Al Aswad dari Aisyah dari Nabi Saw, ia bersabda: “Diangkat pena dari tiga orang, yaitu orang yang tidur sampai ia bangun, dari anak kecil sampai ia dewasa, dan dari orang yang absurd sampai ia arif atau sadar.”(HR. An-Nasai)

Hadis di atas termasuk hukum syar’i lantaran berupa firman Allah Swt tapi yang berupa hadis yang menjadikan tidur, masih kecil, dan absurd sebagai penghalang kedewasaan (taklif), sehingga mereka semua tidak terkena hukum.

Dari pengertian al-ḥukm berdasarkan ulama ajakan di atas sanggup di ketahui dua hal :

1). Bahwa firman Allah Swt yang tidak berkaitan dengan perbuatan orang mukallaf tidak di namakan ḥukm, ibarat firman yang berkaitan dengan dzat dan sifat-Nya, sebagaimana yang difirmankan

وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah :284)

Ayat di atas tidak termasuk al-ḥukm lantaran tidak berkaitan dengan perbuatan manusia, begitu pula Firman-Nya yang berkaitan dengan perbuatan insan tetapi tidak menghendaki tuntutan pilihan atau ketetapan juga tidak di namakan al-ḥukm, ibarat kisah-kisah dalam Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya yang menceritakan ihwal kekalahan bangsa Romawi

الم . غُلِبَتِ الرُّومُ . فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ

“Alif laam Miim, telah dikalahkan bangsa Rumawi,di negeri yang terdekat dan mereka setelah dikalahkan itu akan menang.” (QS. Ar-Rum 1-3)

2) Yang di namakan ḥukm berdasarkan ulama ushul atau yang disebut ushūliyyun ialah firman Allah Swt itu sendiri sedangkan berdasarkan ulama fikih atau fuqaha’ yang di namakan ḥukm ialah kandungan firman Allah Swt. Sebagai Contoh firman Allah Swt:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا

Menurut ulama ushul ayat di atas disebutal ḥukm sedangkan berdasarkan ulama fikih yang disebut al-ḥukm ialah kandungan ayat tersebut yaitu haramnya zina.

B. Macam-macam Hukum Syar’i.
Menurut ulama ajakan hukum syar’i terbagi menjadi dua macam yaitu hukum taklifi dan hukum wad’i.

1) Hukum Taklifi.
a. Pengertian Hukum Taklifi.
Hukum taklifi ialah firman Allah Swt yang berafiliasi dengan perbuatan mukallaf yang menghendaki tuntutan untuk melaksanakan atau menjauhi atau untuk menciptakan pilihan. Di namakan hukum taklifi lantaran adanya pembebanan atau tuntutan kepada manusia.

Contohnya, Firman Allah Swt yang menuntut mukallaf untuk melaksanakan suatu perbuatan.

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka,dengan zakat itu kau membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka." (QS. At-Taubah:103)

b. Macam-macam Hukum Taklifi.
Mayoritas ulama ushul membagi hukum taklifi menjadi 5 :

1. Ijab : Yaitu tuntutan Allah Swt kepada mukallaf untuk melaksanakan suatu perbuatan dengan tuntutan yang pasti.

2. Nadb : yaitu tuntutan Allah Swt kepada mukallaf untuk melaksanakan suatu perbuatan dengan tuntutan yang tidak niscaya atau usulan untuk melakukan.

3. Tahrim : Yaitu tuntutan Allah Swt kepada mukallaf untuk tidak melaksanakan suatu perbuatan dengan tuntutan yang pasti.

4. Karahah : yaitu tuntutan Allah Swt kepada mukallaf untuk tidak melaksanakan suatu perbuatan dengan tuntutan yang tidak niscaya atau usulan untuk menjauhi.

5. Ibahah: yaitu Permintaan Allah Swt kepada mukallaf untuk menentukan antara melaksanakan atau meninggalkan suatu perbuatan.

Ulama Ḥanafi membagi hukum taklifi menjadi 7 penggalan dengan membagi firman Allah Swt yang menuntut melaksanakan suatu perbuatan dengan tuntutan niscaya pada dua penggalan ijab dan farḍu dan membagi karahah menjadi dua yaitu karahah at-tanzih dan karahah at-tahrim.

Dengan pembagian hukum taklifi ibarat tersebut di atas, Ulama’ Hanafiyah membagi hukum taklifi kepada fardu,Ijab, nadb, tahrim, karahah at-tanzih, karahah at-tahrim dan Ibahah.

Tetapi pada umumnya ulama setuju membagi hukum tersebut kepada lima penggalan ibarat telah disebut di atas. Kelima macam hukum itu menimbulkan pengaruh terhadap perbuatan mukallaf dan pengaruh itu oleh ulama fikih dinamakan al-aḥkām al-khamsah, yaitu,

1. Wajib.
Wajib ialah perbuatan yang dituntut oleh Allah Swt untuk dilakukan dengan tuntutan pasti, di mana pelakunya akan menerima kebanggaan sekaligus pahala dan yang meninggalkan akan menerima celaan atau hinaan sekaligus hukuman.

Menurut secara umum dikuasai ulama bahwa wajib ialah sinonim dari fardu.

2. Mandub.
Mandub ialah perbuatan yang dituntut oleh Allah Swt dengan tuntutan tidak niscaya atau dengan kata lain segala perbuatan yang diberi pahala kalau mengerjakannya dan tidak di kenai siksa apabila meninggalkannya, mandub ini disebut juga sunah atau mustahab.

3. Muharram (haram).
Muharram ialah perbuatan yang di tuntut oleh Allah swt untuk di tinggalkan dengan tuntutan niscaya atau dengan kata lain segala perbuatan yang apabila di lakukan menerima siksa dan apabila di tinggalkan menerima pahala contohnya mencuri, membunuh dan lain sebagainya.

4. Makruh.
Makrūh ialah perbuatan yang dituntut oleh Allah Swt untuk di tinggalkan dengan tuntutan tidak niscaya atau dengan kata lain perbuatan yang bila ditinggalkan, menerima pahala, dan kalau dilakukan tidak menerima dosa. Misalnya: memakan makanan yang menimbulkan amis yang tidak sedap, salat di sangkar unta dan lain sebagainya.

5. Mubah.
Mubah ialah perbuatan yang dibebaskan oleh Allah Swt untuk dilakukan ataupun ditinggalkan.

2) Hukum wad’i.
a. Pengertian Hukum wad’i.
Hukum wad’i adalah firman Allah Swt yang berafiliasi dengan perbuatan mukallaf yang menjadikan sesuatu sebagai lantaran adanya yang lain, sebagai syarat adanya yang lain dan sebagai penghalang adanya yang lain.

Contoh :

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“laki-laki yang mencuri dan wanita yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” ( QS. Al-Maidah : 38).

Ayat ini memutuskan bahwa pencurian menjadi lantaran diwajibkanya potong tangan.

b. Macam-macam Hukum Wad’i.

Dari pengertian di atas maka hukum wad’i terbagi menjadi sebab, syarat, dan mani’ namun sebagian ulama memasukan sah, batal, azimah dan rukhsah sebagai penggalan dari hukum wad’i.

1. Sabab.
Menurut bahasa sesuatu yang sanggup menimbulkan sesuatu yang lain. Menurut istilah ialah khitab Allah Swt yang menjadikan sesuatu sebagai sabab ada dan tidaknya suatu hukum. Atau adanya sesuatu menimbulkan adanya hukum dan tidak adanya sesuatu menimbulkan tidak adanya hukum.

Contoh : masuknya waktu salat ialah menimbulkan adanya pelaksanaan shalat dengan tidak adanya masuknya waktu tidak akan ada pelaksanaan shalat.

2. Syarat.
Menurut bahasa sesuatu yang menghendaki adanya sesuatu yang lain. Menurut istilah adanya sesuatu yang menimbulkan adanya hukum, dan tidak adanya sesuatu itu menimbulkan tidak ada pula hukum, namun dengan adanya sesuatu itu tidak mesti pula adanya hukum, atau sesuatu yang padanya tergantung keberadaan sesuatu yang lain dan berada di luar hakekat sesuatu yang lain itu.

Misal : Wudhu ialah syarat sah shalat, dalam arti adanya shalat tergantung pada adanya wudhu namun wudhu itu sendiri bukanlah merupakan penggalan shalat. kalau tidak ada wudhu maka tidak akan ada sah shalat, namun dengan adanya wudhu tidak mesti ada sah shalat, lantaran sanggup jadi seseorang berwudhu tetapi tidak melaksanakan shalat.

3. Mani’ (penghalang).
Menurut bahasa mani’ ialah penghalang. Menurut istilah ialah sesuatu yang di menetapkan syariat sebagai penghalang bagi adanya hukum. Mani’ terbagi menjadi 2 :

- Mani’ terhadap hukum yaitu sesuatu yang di menetapkan oleh syariat sebagai penghalang bagi berlakunya hukum. ibarat ḥaiḍ dan nifas ialah mani’atau penghalang wajibnya shalat meskipun sebabnya ada yaitu masuknya waktu. Membunuh menjadi mani’ adanya hukum yaitu mewarisi meskipun sebabnya ada yaitu kekerabatan.

- Mani’ terhadap sabab yaitu sesuatu yang di menetapkan syariat sebagai penghalang bagi berfungsinya suatu sabab, sehingga sabab itu tidak lagi memiliki akhir hukum. Seperti berhutang menjadi mani’ atau penghalang wajibnya zakat lantaran tidak terwujudnya sabab yaitu kepemilikan satu nisab.

4. Sah.
Sah ialah suatu perbuatan yang di lakukan oleh mukallaf dengan memenuhi syarat dan rukunnya, Contoh di dalam ibadah pelaksanaan shalat, zakat, puasa, haji yang syarat dan rukunya terpenuhi.

Contoh dalam muamalah ibarat nikah, jual beli, wakaf dsb apabila di lakukan sesuai dngan syarat dan rukunya.

5. Batal.
Batal ialah suatu perbuatan yang di lakukan oleh mukallaf yang syarat dan rukunnya tidak terpenuhi, ibarat shalat yang syarat maupun rukunya tidak terpenuhi.

6. Rukhsah.
Rukhsah ialah sesuatu yang dalam kondisi tertentu di syariatkan dalam rangka menunjukkan dispensasi terhadap mukallaf .

7. Azimah.
Azimah ialah hukum syara’ yang pokok dan berlaku untuk seluruh mukallaf dan dalam semua keadaan dan waktu, contohnya : shalat farḍu lima waktu sehari semalam, dan puasa pada bulan ramadhan

Demikianlah sahabat www.Merah.Online/">Merah.Online ulasan ihwal pengertian hukum syar’i (syari'ah) dan macam-macam hukum syar’i. Kunjungilah selalu www.Merah.Online/">www.Merah.Online semoga bermanfaat. Aamiin.

0 Response to "Pengertian Mencar Ilmu Aturan Syar’I (Syari'ah), Macam-Macam Mencar Ilmu Aturan Syar’I Dan Contohnya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close